Hal Mengampuni

SABDA SANG KHALIK

Selasa, 17 Maret 2020
Pekan Prapaskah III Tahun A/II
Warna Liturgi: Ungu

BACAAN:

Dan. 3:25.34-43; Mat. 18:21-35.

INSPIRASI:

Injil hari ini berbicara tentang “memberi” dan juga “menerima” pengampunan. Pertanyaan Petrus tentang batas maksimal untuk mengampuni sesama, dijawab oleh Yesus dengan menegaskan bahwa mengampuni itu tiada batasnya. Alasan mengampuni itu adalah karena Allah sendiri selalu mengampuni kita dengan tiada batasnya.

Menariknya, sering kali lebih mudah untuk memaafkan atau mengampuni daripada meminta maaf atau memohon untuk diampuni. Memohon pengampunan dengan tulus mengandaikan seseorang dengan jujur mengakui bahwa ia telah melakukan kesalahan. Pengakuan seperti itulah yang kerap sulit dilakukan. Sulit untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan.

Dalam perumpamaan Injil hari ini, orang yang memohon kesabaran tuannya agar diberi waktu untuk melunasi utangnya tampaknya tulus. Dia memohon dengan “sujud/jatuh” di hadapan tuannya, memohon belas kasihan dan kesabaran. Dan tuannya membalas dengan belas kasihan dengan membebaskan dan menghapus seluruh hutang orang itu.

Namun, apakah pelayan itu benar-benar tulus atau dia hanya aktor yang baik? Tampaknya dia adalah aktor yang baik karena segera setelah hutangnya yang besar dihapuskan, dia bertemu dengan kawannya yang berhutang uang kepadanya, dan dia bukannya menunjukkan pengampunan yang sama seperti yang diberikan kepadanya. Dia justru menangkap kawannya itu dan mulai mencekiknya, menuntut agar kawannya itu membayar segala utangnya.

Pengampunan yang diperoleh harus memengaruhi kehidupan orang yang menerima pengampunan. Pengampunan merupakan sesuatu yang dimohonkan. Karena itu, pengampunan merupakan pemberian yang harus dibagikan juga bagi orang lain.

Melalui permenungan ini, kita hendak bertanya: apakah kita sungguh menyadari dan mengakui bahwa kita telah melakukan kesalahan dan atau dosa kepada sesama dan kepada Allah? Bila “ya” maka seharusnya kesadaran itu mendorong kita untuk memohon pengampunan kepada Allah dan mau meminta maaf kepada sesama.

Ketika kita dimaafkan, apa manfaatnya bagi kita? Apakah pengampunan itu membuat kita lebih berbelas kasih kepada orang lain? Apakah kita pada gilirannya bisa memberikan pengampunan dan belas kasihan yang sama dengan yang kita harapkan dari Tuhan dan orang lain? (RP. Frans R. Zai, OFMCap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)