Karakter Buruk dan Motif Kepentingan Sebagai Penghalang Pertumbuhan

Kerap dipertentangkan antara orang tua dan kaum muda jaman ini. Terdengar dari kaum muda bahwa orang tua sekarang ini susah menerima atau mengikuti selera anak muda jaman ini. Sedangkan orang tua sekarang mengatakan bahwa orang muda sekarang susahnya minta ampun untuk diberikan masukan atau pengajaran. Maunya seleranya saja. Keduanya memunculkan pendapat yang bervariasi sebagai ungkapan ketidaksanggupan menerima perubahan.

Baru-baru ini kita mengadakan periodesasi kepengurusan Gereja mulai dari lingkungan, stasi hingga paroki. Dalam kepengurusan itu ada wajah baru yang dimunculkan dan ada juga yang lama dipertahankan untuk menganimasi pelayanan umat di gereja. Ragam tanggapan yang terdengar dan dilontarkan, sesuai dengan maksud dan niatnya. Ada yang menyatakan: “syukurlah dia dipilih. Pas kali fuangg……” ada pula yang tidak puas dan protes: “Pemilihan macam apa ini, pokoknya harus dibuat pemilihan ulang. Masak kita kembali ke jaman dictator dan otoriter. Kalau sudah dipilih umat kenapa harus ada campur tangan DPP lagi. Mau dibawa kemana gereja kita ini ya…” Ada yang tenang – tanpa sebuah beban dan bersyukur, “entah siapa pun yang terpilih itu, semuanya kan untuk melayani Tuhan dan umat-Nya, mari kita dukung mereka”. Dan masih banyak lagi komentar yang terungkap maupun yang terpendam, bisa saja sebagai ungkapan kegembiraan bisa juga ungkapan kekecewaan.

Perumpamaan anggur lama dan anggur baru terkait dengan proses mengatasi pertumbuhan pribadi sendiri untuk menjadi pribadi yang baru. Aku tidak dapat mengatasi cara lama dan diri lamaku hanya dengan menambal ide-ide atau potongan-potongan baru. Aku harus menjadi benar-benar baru dengan pikiran dan motivasi yang baru. Sangat mudah untuk terus melakukan hal yang sama (monoton) daripada bekerja keras dan menciptakan sesuatu yang baru.

Yesus tidak menentang apa yang “kuno” atau yang “lama”. Tetapi Dia tidak ingin yang kuno itu dipaksakan pada yang baru. Yesus yang ditolak oleh orang-orang Yahudi menjadi simbol anggur baru yang ditolak oleh struktur lama karena kantong kulit tua sudah tidak bisa menampung anggur baru. Selama aku masih berkutat dengan kebiasaan dan pemikiran yang lama hingga tidak bisa meninggalkan kebiasaan manusia lama, selama itu pula aku akan sulit untuk menerima dan membawa sebuah perubahan dan pertumbuhan. Akhirnya aku pun susah untuk mengikuti Yesus.

Bagaimana aku menerima perubahan yang terjadi hingga mewujudkan pertumbuhan imanku?

Oleh : Diakon Rico Tamsil Simbolon, OFMCap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)