Marilah Pergi, Kita Diutus!

Pesta St. Laurensius Brindisi, Imam dan Pujangga Gereja

Luk 9:1-6

Dalam Injil dikisahkan bagaimana Yesus mengutus para keduabelas rasul yang telah dipilih-Nya. Setelah sekian lama bersama dengan Yesus, para rasul pun siap untuk diutus. Tujuan dari perutusan ini adalah sederhana dan jelas: mereka menerima kuasa dan wewenang untuk mengusir Iblis, serta menyembuhkan yang sakit.

Ada tiga poin mendasar atau petunjuk atas misi yang diterima para rasul dari Yesus yang tertuang dalam Luk 9:1-6, yakni: keramahan, berbagi dalam persekutuan, dan penerimaan terhadap yang dikucilkan (pembela, goet).

Pada jaman Yesus, ada beragam gerakan pembaharuan: Esseni, orang Farisi, dan Zealot. Mereka juga mencari cara baru untuk hidup di dalam masyarakat dan mereka memiliki misionaris mereka sendiri (Mat 23:15). Tapi ketika mereka pergi bermisi, mereka disarankan: untuk membawa staf, dan membawa bekal/makanan yang dimasukkan kedalam ransel. Mereka tidak mempercayai makanan yang akan disediakan bagi mereka. Secara harfiah makanan itu tidak “murni”.

Berlawanan dengan misionaris ini, para murid Yesus menerima rekomendasi yang beragam yang membantu kita untuk memahami poin mendasar dari misi, untuk mewartakan Kabar Gembira:

 

  1. Mereka tidak boleh membawa apa-apa (Luk 9:3; 10:4).

Itu berarti bahwa Yesus mewajibkan mereka untuk percaya pada keramahan. Mereka percaya pada orang dan berpikir bahwa dia akan disambut dan diterima. Dengan sikap ini mereka mengkritik hukum pengecualian yang diajarkan oleh agama resmi dan mereka menunjukkan, dengan cara praktek baru, bahwa mereka memiliki kriteria lain dalam masyarakat.

 

  1. Mereka harus tetap tinggal di rumah pertama di mana mereka masuk, sampai mereka meninggalkan tempat itu (Luk 9:4; 10:7).

Artinya, mereka harus hidup bersama dalam cara yang stabil dan tidak pergi dari satu rumah ke yang lain. Mereka harus bekerja dengan semua dan hidup dari apa yang mereka terima “karena seorang pekerja layak mendapat upah-nya” (Luk 10:7). Dengan kata lain, mereka harus berpartisipasi dalam kehidupan dan pekerjaan orang, dan orang akan menerimanya dalam komunitas mereka dan akan berbagi dengan mereka rumah dan makanan. Itu berarti bahwa mereka harus percaya untuk berbagi.

 

  1. Mereka harus menyembuhkan orang sakit dan mengusir Iblis (Luk 9:1; 10:9; Mat 10:8).

Artinya, mereka harus melaksanakan fungsi “pembela”, penebus (goêl) dan menerima setiap setiap lapisan di masyarakat termasuk mereka yang dikucilkan. Dengan sikap ini mereka mengkritik situasi disintegrasi kehidupan masyarakat yang tertutup pada dirinya sendiri dan mereka menunjukkan sebuah keterbukaan. Pengusiran Iblis adalah tanda kedatangan Kerajaan Allah (Luk 11:20).

Inilah tiga poin mendasar dari kehidupan komunitas yang harus menjadi ciri sikap para misionaris yang mewartakan Kabar Gembira dalam nama Yesus, yakni: keramahan, berbagi dalam persekutuan, dan penerimaan terhadap yang dikucilkan (pembela, goet).

 

Marilah pergi, kita diutus. Demikian berkat pengutusan yang kita terima dari Allah melalui imam-Nya setiap kita selesai merayakan Ekaristi. Ya, Panggilan hidup Kristiani adalah perutusan, mewartakan Kabar Keselamatan, yakni Injil. Panggilan pewartaan itu bukanlah sebuah pilihan melainkan kewajiban. Kerap dimengerti bahwa tugas perutusan ini hanya diampu oleh para petinggi gereja semata, yakni oleh para kaum tertahbis dan para penganut lembaga hidup bakti. Nyatanya, bahwa pewartaan Injil itu menjadi tugas dan tanggungjawab seluruh umat Kristiani, tanpa terkecuali. Apapun profesi yang kita miliki lewat kata dan tindakan mari mewartakan kabar keselamatan kepada setiap orang. Dalam keadaan situasi apa pun, kita semestinya siap untuk diutus seraya tetap mengandalkan Yesus sebagai kekuatan perutusan. Marilah pergi, kita diutus. Amin.

Diakon Rico Tamsil Simbolon,OFMCap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)