Renungan Harian, Hari Minggu Adven III: 17 Desember 2023

Hari Minggu Adven III: 17 Desember 2023

Yes 61:1-2,10-11; Luk 1:46-54: 1Tes 5:16-24; Yoh 1:6-8,19-28

BERGEMBIRALAH DALAM TUHAN

Pada hari Minggu Adventus III dikenal juga dengan nama hari Minggu Gaudete atau hari Minggu Sukacita. Bacaan-bacaan liturgi hari ini mengarahkan kita menuju kepada Terang yang juga menjadi sumber kegembiraan bagi kita.

Kita dapat mendengar dalam bacaan pertama bahwa Israel yang tertawan bersorak gembira, ketika nabi Yesaya menyampaikan berita pembebasan kepada mereka. Sebagai nabi dan pewarta, Yesaya senantiasa rela mewartakan kasih Allah yang membawa kegembiraan dan gairah untuk hidup. Justru seorang pewarta merasa bahagia, karena mampu membahagiakan orang lain. Andalan utama pewarta kabar gembira ialah Roh Allah, seperti tersurat, “Roh Tuhan ada di atasku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku dan mengutus aku” (Yes 61:1). Sebagai nabi, Yesaya merasa bahwa tugasnya ialah menyampaikan kabar baik kepada orang-orang yang sengsara, memberitakan

pembebabasan kepada orang-orang tawanan dan yang terkurung dalam penjara (Yes 61:1-3).

Kata penghiburan dan janji ini baru benar-benar terungkap dan nyata dalam Kristus, ketika Dia untuk pertama kali mengajar di sinagoga Israel, “Pada hari ini genaplah nas ini, sewaktu kamu mendengarnya” (Luk 4:18-19). Roh Allah telah mengubahnya menjadi daya penggerak, yang mampu membawa kabar baik bagi yang patah hati, penyembuhan bagi yang berduka dan pembebasan dari belenggu kegagalan dan penderitaan (Luk 1:46-48).

Setelah nabi Yesaya menyampaikan kabar gembira bagi umat Allah, dalam inijil hari ini ditampilkan figur Yohanes Pembaptis menyampaikan kabar sukacita. Ia pernah mengalami sukacita di dalam rahim ibunya ketika berjumpa dengan Yesus dalam rahim Bunda Maria. Yohanes sangat yakin bahwa Yesus sungguh sumber kegembiraan dan keselamatan. Yohanes menyadari tugas perutusannya. Ia harus mempersiapkan kedatangan Penyelamat dunia. Ia laksana suara yang berseru untuk menyiapkan umat menyambut kedatangan Mesias. Apa yang dilakukan Yohanes sebagai utusan Tuhan? Ia menghayati hidup askesis dalam hal makanan dan pakaian dan ia menyerukan pertobatan dengan membaptis banyak orang. Ia juga menunjukkan kerendahan hatinya terutama ketika identitasnya dipertanyakan. Ia berkata: “Aku bukan Mesias”. Ia juga mengaku bukan Elia atau salah seorang nabi. Ia mengaku tidak layak untuk membungkuk dan membuka tali sepatuNya. Yohanes menghadirkan sukacita dalam kesaksian hidupnya yang sederhana.

Yohanes Pembaptis bukan hanya sekedar menjadi saksi kegembiraan Kristiani, melainkan juga sebagai warta gembira bagi orang lain (Yoh 1:6-8). Sebagai saksi, ia ikut terlibat dalam peristiwa keselamatam. Ia menyiapkan Israel untuk menerima Mesias. Dia sendiri bukan nabi (Yoh 1:20), tetapi hanya suara yang berseru, supaya orang menyiapkan diri untuk menyongsong raja damai, Mesias yang akan datang. Dialah suara yang menuntut pertobatan, “Luruskan jalan Tuhan” (Yoh 1:23). Tobat merupakan satu perubahan hidup dari kebinasaan kepada keselamatan, dari gelap terbitlah terang. Tobat membuka jalan kepada kemerdekaan.

St. Paulus dalam bacaan kedua, mengingatkan jemaat di Tesalonika untuk tetap bersukacita karena kehadiran Roh Kudus. Mengapa jemaat di Tesalonika harus senantiasa bersukacita? Bagi Paulus, bersukacita adalah kehendak Tuhan. Mereka diingatkan juga untuk tekun berdoa dan mengucap syukur kepada Allah yang setia. Dengan bersukacita, berdoa dan bersyukur maka jemaat bisa bertumbuh dalam kekudusan. Mereka boleh dijauhkan dari kejahatan. Paulus juga berharap: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat sampai pada hari kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Sukacita adalah kehendak Tuhan dan membantu kita untuk bertumbuh dalam kekudusan.

Apa yang mau disampaikan kepada kita dalam Minggu Adven 3 hari ini?
Pertama, Seperti Nabi Yesaya membawa terang Injil kepada umat Israel yang pernah merasakan kegelapan di Babel dan kini mendiami kembali Yerusalem, seperti Yohanes Pembabtis menjadi saksi Terang dan Paulus juga menjadi terang bagi jemaat di Tesalonika, maka Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi Terang supaya semua orang percaya kepadaNya. Kita ingat kembali Tuhan Yesus yang pernah bersabda: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan BapaMu yang di Surga” (Mat 5:16). Tuhan Yesus sebagai Terang dunia (Yoh 8:12) membantu kita untuk membawa terangNya kepada sesama yang masih meringkuk dalam kegelapan.

Kedua, Tuhan memanggil kita untuk membawa sukacita kepada sesama. St. Paulus berkata: “Bersukacitalah senantiasa”. Ini adalah kehendak Tuhan untuk membawa sukacita kepada sesama: yang menderita sengsara, yang remuk hati, para tawanan dan mereka yang berada di dalam penjara. Sukacita itu berasal dari Tuhan Allah sendiri. Tugas kita adalah membaginya kepada mereka. Untuk bisa membawa sukacita dalam Tuhan kita harus memilikinya.

Perayaan natal semakin dekat. Mari kita medekatkan diri kita kepada Yesus Kristus Tuhan kita. Dialah pembawa sukacita yang dinanti-nantikan manusia. Dialah Terang sejati dambaan manusia. Dialah kedamaian hati yang diharapkan manusia. Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!

Pastor Albertus Pandiangan OFMCap dari Biara Kapusin Emmaus Helvetia Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)