Salib, Lambang Kegigihan Dalam Berjuang

Hari ini seluruh umat beriman merayakan Jumat Agung. Pada perayaan berahmat ini, RP. Francesco R. Zai OFMCap menyampaikan khotbah melalui video yang diunggah di youtube. Semoga umat beriman dapat terbantu untuk merenungkan dan menghayati perayaan pada hari ini. Selain video, teks khotbahnya pun turut dicantumkan di bawah ini.

 

 

SABDA SANG KHALIK

Jumat, 10 April 2020
Hari Jumat Agung, Tahun A/II
Warna Liturgi: Merah

BACAAN:

Bacaan: Yes. 52:13-53:12; Mzm. 31:2.6.12-13.15-16.17.25; Ibr. 4:14-16. 5:7-9; Yoh. 18:1-19:42.

HOMILI:

Hari ini kita merayakan Jumat Agung, yakni mengenangkan sengsara dan wafat Yesus di salib. Kisah sengsara dan wafat Kristus yang dibacakan dari Injil Yohanes, mengungkapkan keteguhan Yesus untuk tetap setia melaksanakan tugas perutusan-Nya untuk menyelamatkan manusia, kendatipun harus mengalami penderitaan dan bahkan sampai wafat di salib.

Hal yang menarik dari kisah sengsara Yesus adalah walaupun kepada-Nya dituduhkan hal-hal yang tidak benar – dikhianati oleh murid-Nya, diolok-olok oleh orang banyak, dipermalukan, dihukum dengan memikul salib, tiga kali jatuh dalam perjalanan memikul salib, dipukuli, pakaiannya dilucuti dan dibagi-bagikan, dan kemudian disalibkan serta lambungnya ditusuk dengan tombak – tetapi semuanya itu tidak membuat Dia berhenti untuk berjuang menggapai garis akhir, menuntaskan tugas perutusan-Nya untuk menyelamatkan manusia.

Tuduhan palsu, cemoohan dan pengkhianatan tidak membuat Dia lemah. Penindasan tidak membuat Dia takut. Beban berat yang Dia pikul tidak melunturkan semangat juangnya. Walau Dia sedang mengalami penderitaan, tetapi hal itu tidak membuat Dia menutup mata terhadap orang lain yang mengalami kesusahan. Dia justru masih sempat memberikan waktu untuk menghibur wanita-wanita yang menangisi Dia.

Kesetiaan dan keteguhan Yesus tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap kita. Tak jarang terjadi, cemoohan orang membuat kita sakit hati dan akhirnya mengganggu konsentrasi kita. Pengkhianatan atau pun pengingkaran terhadap commitment bersama membuat kita kecewa sehingga hidup terasa hampa, hutang orang lain yang masih belum dilunasi kepada kita sering membuat kita cemas, stres dan karena itu kita menjadi jatuh sakit. Kesulitan mendapatkan pekerjaan sering membuat kita menjadi putus asa. Biaya kebutuhan sehari-hari yang tinggi kerap membuat emosi menjadi tidak stabil. Dan masih banyak lagi contoh yang bisa kita tambahkan, yang menunjukkan bahwa kita masih rapuh dan tidak teguh dalam melaksanakan tugas perutusan kita sebagai murid-murid Kristus.

Melalui permenungan atas sengsara dan wafat Kristus pada hari ini, kita diajak untuk kembali mengumpulkan semangat juang di dalam diri kita. Mari kita membalut luka hati dengan taburan pengharapan sehingga kita didorong untuk kembali bergerak, melangkah maju dalam ayunan langkah yang pasti. Mari mengganti kesedihan dengan suka cita, sebab tak ada malam yang tidak berganti dengan siang. Mari menyingkirkan keputusasaan dan menggantikannya dengan gagasan-gagasan solutif. Segala dendam dan kebencian kita ganti dengan pengampunan dan kasih sayang. Dengan melakukan perubahan-perubahan yang demikian, hidup terasa lebih berwarna, lebih ringan dan juga lebih terbuka pada rahmat Allah. Amin. (RP. Francesco R. Zai, OFMCap).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)